Sat Binmas Polres Manggarai Berikan Trauma Healing kepada Guru dan Suster TK Santa Clara Redong Pascagempa

Sat Binmas Polres Manggarai Berikan Trauma Healing kepada Guru dan Suster TK Santa Clara Redong Pascagempa
Sat Binmas Polres Manggarai Berikan Trauma Healing kepada Guru dan Suster TK Santa Clara Redong Pascagempa

tribratanewsmanggarai.com_

Ruteng, Sabtu 12 September 2026 – Kepolisian Resor Manggarai melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) terus menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi yang melanda wilayah Pulau Flores, khususnya dalam membantu proses pemulihan psikologis pascagempa.

Kali ini, personel Sat Binmas Polres Manggarai melaksanakan kegiatan sambang, pemantauan situasi Kamtibmas sekaligus memberikan dukungan psikologis dan trauma healing kepada para suster dan guru TK Santa Clara Redong, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Sabtu 12 September 2026.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WITA tersebut dipimpin oleh IPTU Jonathan bersama AIPTU Thomas, AIPDA Fransiskus, AIPDA Godlif Aplugi, AIPDA Maria Sirait dan BRIGPOL Yuliana Kase. Kehadiran personel Sat Binmas merupakan bagian dari upaya Polri untuk hadir secara langsung di tengah masyarakat dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam.

Selain memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di lingkungan sekolah tetap aman dan kondusif, personel Sat Binmas juga membangun komunikasi secara humanis dengan para suster dan guru TK Santa Clara Redong. Dialog tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi serta pengalaman para tenaga pendidik dalam mendampingi anak-anak setelah mengalami peristiwa gempa.

Pasca terjadinya gempa bumi, kondisi psikologis anak-anak menjadi salah satu perhatian penting. Anak-anak usia dini pada umumnya belum sepenuhnya mampu memahami dan mengelola rasa takut yang muncul akibat pengalaman bencana. Getaran gempa, suara tertentu maupun situasi lingkungan yang berubah dapat kembali memunculkan rasa cemas dan ketakutan.

Dalam kegiatan tersebut, para suster dan guru diberikan ruang untuk berbagi cerita dan pengalaman mengenai kondisi anak-anak yang masih mengalami rasa takut maupun trauma. Personel Sat Binmas mendengarkan berbagai pengalaman tersebut sekaligus memberikan motivasi agar para pendidik tetap tenang ketika menghadapi anak-anak.

Kegiatan trauma healing dilaksanakan dengan pendekatan yang humanis, sederhana dan penuh kekeluargaan. Personel tidak hanya memberikan pesan-pesan motivasi, tetapi juga mengajak para suster dan guru untuk berbagi cerita, pengalaman serta menghadirkan suasana yang lebih santai melalui cerita-cerita ringan dan lucu.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan menghibur bagi para guru dan suster yang juga menghadapi tekanan psikologis akibat situasi pascabencana.

Dalam suasana kebersamaan tersebut, personel Sat Binmas memberikan pemahaman bahwa guru dan suster memiliki peran penting dalam membantu anak-anak melewati masa pemulihan. Ketika para pendidik mampu menunjukkan ketenangan, rasa aman dan sikap positif, hal tersebut dapat membantu anak-anak secara perlahan mengurangi rasa takut yang mereka alami.

Para guru dan suster juga diberikan motivasi agar tetap semangat dalam menjalankan tugas dan tidak larut dalam kekhawatiran akibat bencana. Mereka diharapkan dapat menjadi sosok yang memberikan rasa aman kepada anak-anak ketika proses pembelajaran kembali dilaksanakan.

Kehadiran personel Polri dalam kegiatan tersebut bukan hanya sebagai bentuk pelaksanaan tugas pembinaan masyarakat, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap kondisi psikologis masyarakat pascabencana.

Polri menyadari bahwa dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik maupun kerugian materiil. Rasa takut, kecemasan dan trauma juga menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian. Karena itu, kegiatan sambang dan trauma healing menjadi salah satu bentuk kehadiran Polri untuk membantu masyarakat menghadapi masa pemulihan.

Interaksi yang dibangun antara personel Sat Binmas dengan para guru dan suster berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan. Para tenaga pendidik dapat menyampaikan pengalaman mereka dalam menghadapi kondisi anak-anak, sementara personel memberikan dukungan dan motivasi agar mereka tetap kuat dalam menjalankan perannya.

Melalui kegiatan tersebut, Sat Binmas Polres Manggarai juga terus mendorong pentingnya komunikasi antara pihak sekolah, keluarga dan aparat apabila terdapat anak yang masih menunjukkan rasa takut atau kecemasan berlebihan setelah mengalami gempa.

Pendampingan terhadap anak-anak pascabencana membutuhkan kesabaran dan perhatian. Karena itu, para guru dan suster diharapkan dapat terus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bercerita mengenai pengalaman mereka tanpa memberikan tekanan.

Suasana belajar juga diharapkan dapat dibuat lebih menyenangkan sehingga anak-anak secara perlahan dapat kembali beradaptasi dengan rutinitas. Permainan edukatif, cerita, komunikasi positif dan kegiatan bersama dapat menjadi sarana untuk membantu anak-anak membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri.

Dalam kesempatan tersebut, personel Sat Binmas juga mengingatkan bahwa proses pemulihan psikologis membutuhkan waktu. Tidak semua anak akan menunjukkan respons yang sama terhadap pengalaman gempa. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara Polri dengan para tenaga pendidik. Komunikasi yang baik diharapkan dapat terus terjalin sehingga setiap perkembangan situasi di lingkungan sekolah dapat diketahui dan ditangani secara bersama-sama.

Dari hasil kegiatan, situasi Kamtibmas di lingkungan TK Santa Clara Redong terpantau aman dan kondusif. Kehadiran personel Polri juga mendapat respons positif dari para suster dan guru sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat yang masih berada dalam masa pemulihan pascabencana.

Para guru dan suster mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman mengenai kondisi anak-anak sekaligus memperoleh dukungan psikologis melalui kegiatan trauma healing. Suasana yang awalnya penuh dengan kekhawatiran diharapkan dapat menjadi lebih ringan melalui komunikasi, kebersamaan dan pendekatan yang penuh kekeluargaan.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peran Polri dalam penanganan pascabencana tidak hanya terbatas pada aspek keamanan. Polri juga dapat hadir dalam memberikan dukungan sosial dan psikologis kepada masyarakat, termasuk kepada para tenaga pendidik yang memiliki peran penting dalam membantu pemulihan anak-anak.

Kepedulian seperti ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan Polri yang humanis dan semakin dekat dengan masyarakat. Kehadiran anggota di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan rasa aman sekaligus membangun keyakinan bahwa masyarakat tidak menghadapi dampak bencana seorang diri.

Pasca gempa bumi yang melanda Pulau Flores, sinergitas berbagai pihak sangat diperlukan. Pemerintah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, relawan dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mendukung proses pemulihan.

Sat Binmas Polres Manggarai akan terus mendorong terciptanya komunikasi dan kerja sama dengan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul pascabencana. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, kepedulian dan kemanusiaan diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih tenang dan kondusif.

Bagi anak-anak usia dini, lingkungan yang aman dan dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting dalam proses pemulihan. Guru dan suster sebagai bagian dari lingkungan pendidikan memiliki posisi strategis untuk membantu anak-anak kembali merasa nyaman ketika berada di lingkungan sekolah.

Karena itu, dukungan kepada para guru dan suster juga menjadi bagian penting dari trauma healing. Ketika para pendidik mendapatkan motivasi dan 

dukungan, mereka diharapkan mampu memberikan energi positif kepada anak-anak yang mereka dampingi.

Kegiatan Sat Binmas Polres Manggarai di TK Santa Clara Redong pada Sabtu, 12 September 2026, menjadi salah satu bentuk nyata bahwa Polri terus hadir dalam berbagai kondisi. Tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap sisi kemanusiaan masyarakat yang terdampak bencana.

Kepedulian tersebut diharapkan dapat memberikan semangat kepada para suster dan guru untuk tetap kuat, tenang dan optimistis dalam menjalankan tugas mendampingi anak-anak. Dengan dukungan bersama, proses pemulihan diharapkan dapat berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

Kehadiran Polri di tengah masyarakat pascabencana juga menjadi bagian dari komitmen untuk terus memberikan pelayanan dan perlindungan kepada seluruh lapisan masyarakat. Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kekuatan utama dalam melewati masa-masa sulit akibat bencana.

Melalui kegiatan sambang dan trauma healing ini, Sat Binmas Polres Manggarai menunjukkan bahwa kepedulian Polri tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pengamanan, tetapi juga melalui perhatian terhadap kondisi psikologis dan sosial masyarakat.

Polri hadir untuk mendengar, memberikan dukungan, membangun semangat dan membantu masyarakat kembali bangkit. Dengan komunikasi yang baik serta sinergitas seluruh pihak, diharapkan masyarakat, termasuk para tenaga pendidik dan anak-anak, dapat melewati masa pemulihan pascagempa dengan lebih kuat dan penuh optimisme.

Kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, lancar dan kondusif.

SALAM PRESISI.(Alvzz)